Catatan terdahulu memperlihatkan bahwa wayang telah berhasil melewati ujian waktu sejak perannya sebagai wahana dan representasi religiositas menjadi sosio-politik masyarakat Indonesia. Tidak hanya media propaganda, rupa-rupanya wayang telah menjadi ruang dialog komunal mengusung wacana-wacana kultural secara dinamis dan berkesinambungan melahirkan realitas kebaruan, yang diperlukan kadang untuk mengukur seberapa derajat tingkat nalar rasa kemanusiaan kita. Beberapa pewarta kebaruan itu: Heri Dono (Seniman), Bambang BEP (Wayang Jataka), Nanang Garuda (Wayang Pulau & Rumah Garuda), Rudi Prasetyo (Wayang Beber Animasi); akan bertemu dan saling mengisi, menilik wajah dan rupaan “wayang” serta mendialogkan kembali (ke)Indonesia(an) kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *